Tak Selalu Indah

February 29, 2016 Admin 0 Comments


Dalam hamparan bunga azalea yang bercampur dengan cerahnya warna-warna bunga daisy, terlihat seorang yang terlhat bagai dewi. Gerakan tangannya yang anggun dan senyumannya yang begitu mempesona, bisa membius siapa saja. Tidak peduli atas ras dan golongan.
Siang itu Anji sedang berlibur di Bandung, di sebuah villa milik keluarganya. Villa yang bagian belakangnya terdapat hamparan taman bunga azalea dan daisy. Yang membuat semua mata yang memandangnya tidak mau berpaling. Apalagi terlihat seorang dewi yang sedang tersenyum sambil memetik bunga-bunga itu.
“ Siapa dia? “ tanya Anji pada assistannya, Joko.
“ Dia adalah Anggar. Putri tunggal bapak Saputro, pemilik beberapa villa di daerah ini “ jelas Joko. Mata Anji masih tidak berpaling dari gadis berbaju putih itu. Dia beranjak turun dari kamarnya dan berjalan kearah taman bunga itu. Dia menyusuri jalan setapak mendekati gadis yang sudah memikat matanya itu.
“ Hai “ sapanya pendek setelah berdiri di belakang Anggar yang sedang memetik bunga Azalea.
“ Tuan “ katanya sopan sambil menundukkan kepalanya isyarat memberikan salam.
“ kau sedang apa? “ tanya Anji sedikit gugup. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.
“ memetik beberapa bunga untuk pengisi vas di beberapa villa “ kata Anggar masih menundukkan kepalanya.
“ Boleh aku bantu “ kata Anji sambil merunduk dan mulai memilih beberapa bunga yang sudah pantas dipetik.
“ Tapi tuan, nanti tangan anda bisa kotor “ kata Anggar berusaha mencegah Anji yang sudah asik memotong bunga daisy yang ada dihadapannya.
“ kan nanti bisa cuci tangan “ kata Anji lalu menarik tangan Anggar untuk ikut berjongkok. Anggar memperhatikan wajah yang sudah dia kenal sejak 4 tahun yang lalu. Wajah yang sangat dia kagumi sejak dulu. Wajah yang setiap 3 bulan sekali sangat dia tunggu-tunggu kemunculannya tapi tidak pernah diajaknya bicara. Tidak berani dia tatap secara langsung.
“ Kenapa? Ada yang aneh dari wajahku sampai kau begitu memperhatikannya? “ kata Anji sambil tersenyum. Anggar yang tersadar dari lamunannya langsung tertunduk malu.
“ Aku Anji “ kata Anji mengulurkan tangannya pada Anjar. Anjar yang masih sibuk dengan malunya merasa kaget karena perkenalan Anji. Dia diam sejenak sampai akhirnya membalas uluran tangan Anji.
“ Anggar “ kata Anggar lembut. Entah sejak kapan perkenalan itu terus berlanjut pada pendekatan. Anji lebih sering bertandang ke villanya dengan alasan menenangkan pikiran. Menenangkan pikiran dengan suara lembut dan paras ayu Anggar.

“ Anji, besok keluarga om Sukoco akan makan malam di rumah kita. Papa harap kamu bisa ada dalam acara ini “ kata pak Hendrawan pada anak terkecilnya ini.
“ tapi rencananya Anji mau pergi ke Bandung pa “ kata Anji setengah menolak. Anji memang sudah satu bulan ini tidak bertandang ke villanya. Dia sudah sangat rindu pada Anggar, pujaan hatinya.
“ lagian kan ada kak Vicky “ katanya lagi.
“ tidak bisa. Pokoknya kamu harus ada dalam acara itu. Titik “ kata pak Hendrawan memaksa anaknya. Anji tidak bisa membantah kata-kata papanya itu. Itulah watak papanya. Tidak bisa dibantah, kalau tidak dia akan murka.

“ Anji perkenalkan, ini putri tunggal om “ kata om Sukoco memperkenalkan putrinya yang belum pernah kutemui.
“ Anji “ kata Anji sambil mengulurkan tangannya.
“ Sekar “ kata Sekar yang malam ini terlihat cantik dengan balutan busana terusan berwarna biru laut.
“ kalau begitu kita langsung ke meja makan saja “ kata pak Hendrawan mengajak semuanya menuju meja makan.
Suasana tenang dan senang terlihat diruangan dan hati para orangnya. Kecuali Anji yang pikirannya tertuju pada Anggar. Andai saja dia juga ikut dalam makan malam ini. Batin Anji. Makan malam berjalan lancar yang berlanjut dengan berbincang-bincang di ruang tamu keluarga Hendrawam yang sangat luas.
“ kau tahu Anji. Om Sukoco ini pengusaha yang sangat hebat. Dia punya banyak perusahaan besar di Indonesia dan Singapura “ kata pak Hendrawan pada Anji. Anji hanya tersenyum medengar kata-kata papanya.
“ papamu juga. Dia juga pengusaha yang hebat “ kata pak Sukoco yang langsung disambut tawa renyah dari semua orang. Tapi hanya tersenyum terpaksa mendengar pembicaraan yang saling memuji itu. Di dalam pikirannya hanya ada bayangan Anggar.
“ Anji, papa dan om Sukoco sudah lama berkawan. Sudah banyak kerjasama yang kami jalin dan sekarang saatnya untuk menjalin hubungan yang lebih serius “ kata pak Hendrawan. Anji menunjukkan muka bingung karena masih tidak mengerti maksud papanya.
“ papa dan om Sukoco sudah sepakat menjodohkan kamu dan Sekar. Dan hari pernikahan kalian juga sudah ditentukan “ kata pak Hendrawan yang membuat Anji seperti terkena serangan jantung.
“ Apa ! “ katanya terkejut.
“ Iya. Kamu dan sekar akan dijodohkan “ kata pak Hendrawan mengulangi kata-katanya tadi.
“ nggak pa. Anji nggak mau. Kenapa harus Anji sih pa. Anji udah punya calon sendiri pa. Nggak usah dijodoh-jodohin kayak gini “ kata Anji.
“ Anji. Jangan bercanda kamu ! “ bentak pak Hendrawan.
“ Anji nggak bercanda pa. Namanya Anggar. Dia anak pak Saputro “ kata Anji menjelaskan.
“ Apa! Jadi kau menyukai gadis desa anak pengusaha villa itu!? “ pak Hendrawan kembali berbicara dengan suara menggelegar.
“ iya pa. Dan Anji hanya akan menikah dengan dia “ kata Anji. Sekar yang melihat pertengkaran Anji merasa dirinyalah yang menjadi penyebabnya. Dia merasa malu karena telah ditolak mentah-mentah.
“ lebih baik kita pulang pa “ kata Sekar sambil berlari keluar lalu menaiki mobilnya. Anji menyusul sekar yang masih menunggu kedua orang tuanya yang masih bingung dengan keadaan yang berada di hadapannya.
“ maafin aku Sekar. Aku nggak bermaksud berlaku kurang ajar sama kamu dan keluarga kamu. Tapi aku udah punya seseorang “ kata Anji yang sepertinya tidak digubris Sekar. Setelah melihat keluarga pak Sukoco pulang degan marah karena merasa dipermalukan, pak Hendrawan sangat murka pada Anji. Dia tetap memaksa Anji untuk tetap menikah dengan Sekar dan dengan segala ancaman. Anji yang sudah emosi karena perbuatan papanya akhirnya memutuskan pergi dari rumah malam itu juga. Dia sudah tidak menggubris kata-kata papanya lagi. Pak Hendrawan yang suah murka menyuruh Vicky untuk menyingkirkan Anggar. Entah dengan cara apapun. Akhirnya Vicky yang selalu menuruti kata-kata papanya itu melaksanakan tugasnya. Dia mendahului datang ke tempat Anggar yang saat itu berada di taman bunga. Tidak butuh waktu lama, dia menembak Anggar beberapa kali sampai Anggar tewas seketika.
“ Anggar. Bangun Anggar. Bangun “ teriak Anji yang menemukan Anggar sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
“ Nggar ini nggak lucu Sayang. Please bangun “ katanya sambil memeluk tubuh Anggar erat. Dia tidak mempercayai apa yang sedang dia alami. Dia kehilangan orang yang sangat dia sayang. Anji tahu ini perbuatan papanya. Dia bersumpah tidak akan pernah kembali pada papanya yang sangat tega itu.

2 tahun berlalu. Anji yang pergi dari rumah bekerja di salah satu perusahaan di daerah Sulawesi tenggara. Disitulah dia hidup sendiri dengan kepedihan atas kepergian Anggar. Dia bekerja sebagai pegawai personalia.
“ kau baik-baik saja? “ tanya Raki. Teman sekantornya. Raki juga berasal dari Jakarta. Dia baru pindah ke perusahannya karena ada masalah besar dengan kompetitor yang berasal dari luar negeri.
“ nggak. Hanya memikirkan masalah perusahaan “ kata Anji yang merubah namanya menjadi Panji Dirgantara agar tidak bisa dilacak oleh papanya yang kabarnya mengerahkan sluruh anak buahnya untuk mencarinya.
“ bukankah sudah selesai? “ kata Raki sambil memberikan segelas kopi pada Anji.
“ iyasih. By the way, makasih ya. Elo emang partner top “ kata Anji pada Raki yang hanya tersenyum mendengar perkataan Anji.
“ no problem. Elo juga hebat “ kata Raki.
“ Elo masih kebayang ama Anggar ya “ tanya Raki yang pernah diceritai oleh Anji tentang masa lalunya.
“ kenapa lo tanya hal itu? “ tanya Anji sambil menyeruput kopinya.
“ Solanya elo masih ngejomblo. Padahal kejadiannya udah 2 tahun lalu. Apa elo nggak mau nyari penggantinya? “ tanya Raki pada Anji.
“ Nggak” sahut Anji pendek.
“ kan belom dicoba “ kata Raki lagi.
“ gue nggak mau nyoba. Sama siapapun dan sampai kapanpun. Gue hidup karena hanya pengen buat seneng Anggar “ kata Anji sambil beranjak meninggalkan Raki yang masih tetap duduk diatas meja melihat kepergian Anji.
“ kenapa elo terus mengatakan hal yang sama Nji. Apa elo juga nggak mau mencintai gue “ kata Raki yang melepas wig nya. Ternyata Raki adalah Sekar yang menyamar sebagai seorang laki-laki. Dia kabur dari rumah setelah kejadian penolakan Anji terhadap keluarganya. Dia menyamar menjadi laki-laki untuk menutupi jati dirinya. Tapi ternyata dia dipertemukan lagi dengan Anji yang sudah menutup pintu hatinya untuk siapapun. Termasuk dirinya yang mulai mencintai Anji. Entah apa dia bisa menghilangkan Anji dari pikiran dan hatinya.
Cinta yang sesungguhnya memang ketika orang yang kita cintai mencintai orang lain dan kita masih bisa tersenyum dan mengatakan selamat atas cinta yang telah dia dapatkan.

(diikutkan lomba cerpen panji 2010)