Our Circles, Our Morning

December 28, 2012 Admin 0 Comments


Ada seseorang yang bilang jika dia bukanlah makhluk pagi. Padahal di lain sisi, menikmati pagi bahkan dengan mata yang belum tertutup lebih dari 24 jam adalah keistimewaan tersendiri. Mau mencobanya esok pagi?

Daddy, Behind Small Branch

December 28, 2012 Admin 0 Comments


This is time that will you miss a lot in future. Have fun with your family, parents mostly.

Standing Alone

December 28, 2012 Admin 0 Comments


Alone not meaning lonely. Also with travelling alone.

Only One, and It’s You

December 05, 2012 Admin 0 Comments

Kita tidak akan pernah tahu orang-orang yang pernah kita harapkan, kita tidak harapkan, kita inginkan, ataupun yang tidak kita inginkan menjadi siapan di masa depan. Mungkin saja mereka menjadi teman, mungkin saja menjadi lawan. Dan mereka juga bisa menggantikan seseorang.
***
            Aku berdiri menghadap ke jendela. Memaparkan pemandangan langit biru yang merata. Semuanya seakan terlihat menakjubkan dari sini. Dua lembar kertas berwarna merah dan biru itu aku genggam dengan erat.
“ kau pasti sudah gila “ hanya kata-kata itu yang meluncur dari sahabat sekaligus musuhku. Alea duduk sambil mengerutkan keningnya. Seakan tidak percaya apa yang aku katakan.
“ kau hanya pergi kesana sehari itu? Tanpa memiliki tujuan yang jelas? Apa kau sudah benar-benar kehilangan kesadaranmu, Aria Cadwell? “ cercaannya membuatku tersenyum. Aku tahu aku sudah gila. Dan ini adalah hal pertama yang membuktikannya.
“ aku punya tujuan yang jelas “ kataku sambil tersenyum kearahnya.
“ ingin bertemu dengan orang yang tidak akan pernah bisa kau temui? “ katanya sambil mendengus kesal.
who know? “ ujarku. Ya, minggu depan orang yang selama ini aku tunggu akan berada di satu negara bersamaku. Berdiri satu tempat denganku.  Dan aku ingin melihatnya. Bahkan jika memang aku harus melihatnya dari jauh aku akan menyetujuinya.
***
Aku berjalan gontai menuju ruang tunggu penerbangan. Ketakutanku hampir membuatku mengurungkan niat. Tapi ternyata keinginanku jauh lebih kuat.
“ aku pasti sudah sangat gila ingin menemuinya “ gumamku sambil melihat selembar foto yang aku selipkan diantara notebook ku. Mr. Ondubu, setidaknya itu julukannya. Seorang musisi Asia yang sedang membuming saat ini. Dan sekarang dia berada dalam satu negara denganku. Meskipun tidak bisa melihat konsernya namun setidaknya harapan untuk menemuinya masih jelas ada.  
“ siapa dia? “ suara itu membuatku mendongak. Seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Edja Widyatama, cowok yang menurut sebagian orang termasuk dalam kategori hamper sempurna. Tapi sepertinya tidak menurutku.
“ sedang apa kau disini? “ tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.
“ aku ada sedikit urusan di Jakarta “ jawabnya singkat lalu mengambil duduk di sebelahku. Aku mengerutkan kening.
“ dengan penerbangan ini? “ tanyaku lagi. Dia mengangguk sambil menunjukkan tiket yang menyantumkan nomor penerbangan yang sama dengan yang kumiliki. Aku tersenyum. Ternyata Tuhan tidak membiarkanku pergi sendiri. Orang paling menyebalkan di seluruh dunia, kedua setelah Alea, menjadi penjagaku sekarang.
***
            Jakarta, entah kenapa dulu aku sangat tidak menyukai kota ini. Terlalu padat, terlalu sibuk, dan terlalu banyak kehidupan. Namun sekarang aku berdiri di pusat kota ini. Sendiri.
Aku berjalan menyusuri jalanan setapak gedung yang nantinya akan menampilkan Mr. Ondubu. Ya, disinilah nanti mereka memamerkan suara mereka.
“ seandainya aku bisa melihat kalian “ gumamku sambil berjalan gontai. Langkah kakiku berhenti di depan sebuah pamphlet besar yang terpasag di pintu masuk gelora. Terpampang banyak sekali wajah orang dan di antaranya adalah dia. Aku menghela nafas perlahan.
Aku duduk di deretan kursi taman. Para fans yang sangat ramai mendominasi pemandangan siang ini. Aku mengeluarkan foto yang selama ini selalu terselip di notebook ku.
“ apa kau sedang tidak ada kerjaan lain selain memandangi foto itu ha? “ aku tersenyum tanpa melepaskan pandanganku. Edja sepertinya sudah menyelesaikan urusannya. Namun sekarang sepertinya aku lebih menginginkan kesendirian. Meratapi perasaanku sendiri.
“ ayo ikut aku “ ajaknya sambil menarik tanganku. Aku mengerutkan kening.
“ aku sedang malas kemana-mana “ kataku tanpa semangat. Tapi sepertinya Edja tidak akan termasuk dalam orang yang menyebalkan jika tidak memaksakan kehendaknya.
***
Ruangan ini hampir mirip sebuah ruangan kosong. Hanya terpampang screen putih yang sangat besar di salah satu sisi dinding. Edja menyalakan lampu lalu menutup pintu. Dia berjalan kea rah ujung ruangan. Berdiri sejenak di depan sebuah screen.
“ kau lebih suka menonton konser berdiri atau duduk? “ aku mengerutkan kening karena pertanyaannya.
“ sepertinya kau akan lebih memilih duduk karena itu akan terasa lebih berwibawa “ dia menjawab pertanyaannya sendiri sambil menyeret dua kursi.
“ kita sedang apa? “ tanyaku masih bingung. Edja hanya tersenyum. Senyuman itu berbeda. Dan aku belum pernah melihatnya. Dia berjalan kearah belakang lalu semuanya menjadi gelap.
“ Edja- “ kata-kataku terhenti tepat saat sebuah gambar terlihat jelas di hadapanku. Terdengar suara riuh orang. Aku tercekat ketika melihat suasana konser terpampang jelas di screen itu.
“ bayangkan kita sedang berada di antara mereka “ bisik Edja. Aku hanya terdiam. Suasana ini, suara yang menggema ini, dan tampilan full screen ini membuat kami benar-benar seperti berada di tengah-tengah SM Town III concert. Dan aku juga terdiam, sisi lainnya membuatku selalu merasa tenang dan tidak sendiri.
***
Aku memincingkan mata saat sinar matahari sore menyapa mata kami. Aku berhenti sejenak.
“ ada apa? “ tanyanya. Aku hanya tersenyum lalu menarik tangannya. Strabuck coffe, he love coffe dan ini akan menjadi ungkapan terima kasihku.
“ ini “ kataku sambil menyodorkan coffe lattle favoritnya. Dia mengerutkan kening lalu menerima gelas berwarna hijau itu.
“ thanks “ tambahku sambil menyeruput cappuccino favoritku. Kami duduk dengan pikiran kami masing-masing. Nikmatnya coffe dan cappuccino kami seakan membuat semuanya lebih baik.
“ kenapa kau tidak melihat konsernya jika kau memang ingin melihatnya? “ aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Mengingat kembali bagaimana aku memberikan tiket yang sudah aku dapatkan kepada seorang gadis yang menangis karena tidak mendapatkan tiket itu.
“ ada orang lain yang lebih menginginkannya “ jawabku lalu menyeruput kembali cappuccino yang masih tersisa ¾ itu.
“ ternyata kau masih tetap sama, Aria “ katanya sambil tertawa renyah. Aku hanya tertawa mendengar ucapannya. Tiba-tiba suara riuh itu terdengar. Semua orang berlari ke arah segerombolan orang yang dijaga ketat itu. Aku tersenyum ketika orang yang ingin aku lihat melintas sekilas. Perasaan untuk berlari mengikutinya membuatku berdiri. Tapi ternyata hanya itu yang bisa aku lakukan. Senyuman itu tiba-tiba keluar dan mengembang dari bibirku.
“ ayo kita pergi. Dua jam lagi kita harus pulang “ kataku sambil berjalan gontai menuju halte. Edja tidak berkata sepatah katapun. Dia hanya berjalan mengikutiku. Aku pun begitu. Mataku yang terasa seakan seperti terbakar menahan sesuatu. Dan aku tidak ingin itu keluar.
***
Lakukan hal itu dan rasakanlah. Maka kau akan mengetahuinya.
Bandara terlihat sedikit lenggang. Penerbangan domestik terakhir membuat kami leluasa berjalan tanpa berpapasan dengan banyak orang. Namun ternyata suasana ini lebih mencekat dari yang aku kira. Perasaan yang aku sendiri tidak pernah mengetahuinya.
Kami duduk di luar bandara. Menunggu travel yang akan mengantarkan kami. Diam dan hanya itu yang kami lakukan.
“ menangis bukan hal yang terlalu memalukan “ kata-katanya membuatku menoleh padanya. Senyuman menenangkan itu kembali muncul. Dia membalikkan badannya. Menghadapkan punggungnya padaku. Dan entah kenapa seakan kami sedang berbicara, aku mengerti maksudnya. Air mata itu turun di balik punggungnya. Menyandar di sana dan mengeluarkan semuanya. Entah apa yang membuatnya berbalik. Tanpa sadar aku sudah berada dalam dekapannya. Pelukan hangat dan menenangkan itu membuat semuanya menjadi berbeda sekarang. Dirinya yang lain, yang saat ini sedang memelukku.
“ seperti apa sebenarnya musisi itu sampai bisa membuatmu seperti ini. Juga membuatmu buta akan orang lain yang akan lebih mempedulikanmu “ gumamannya terasa begitu jelas. Namun semuanya hanya sebuah gumaman semata sampai dari mulutnya terucap kata-kata yang tidak pernah terbayangkan keluar dari mulutnya.
***
Semuanya berputar dan terus berjalan. Ya, semuanya harus move on. Waktu tidak akan berhenti, setidaknya untuk kita sampai pada saatnya kita memag harus melepas waktu itu dan berhenti mengikutinya.
“ ini ada paket lagi untukmu “ Alea kembali melakukan kebiasaan barunya selama satu bulan ini. Melempar paket berisi mp3 yang berisi lagu-lagu, yang menurut semua orang yang mendengarnya termasuk lagu bagus, yang dikirim setiap awal minggu.
“ dan anonim lagi “ tambahnya sambil memutar lagu terbaru dari Mr. Anonim itu.
“ dia benar-benar penyanyi yang baik “ kataku sambil mendengarkan lagu terbaru yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Semua lagunya berisi ungkapan perasaan kepada seseorang yang dia sayangi. Tak terbatas, tak terlihat, dan tak pernah terucap.
“ siapa sebenarnya dia? Bahkan setidaknya dia harus- “ Alea menghentikan ucapannya. Sepertinya dia langsung mendapatkan jawabannya. Suara yang sudah sangat aku kenal dan tidak pernah membayangkan bahwa itu adalah miliknya.
“ Edja “ gumamku pelan sambil berjalan menuju kursi sound yang mengumandangkan suaranya itu.
“ Hai Aria Cadwell. Are you ok now? Aku tidak pernah tahu harus mengucapkannya bagaimana dan dengan cara apa. Hanya dengan melihatmu saja rasanya semuanya berhenti sejenak lalu berjalan dengan cepat. Tapi dalam waktu yang asing itu aku selalu berharap kau mengetahui perasaan ini. Only one and it’s you, Aria Cadwell “ semuanya terlintas dengan cepat ketika kalimat terakhir itu terucap. Gumaman itu terasa begitu jelas. Sebuah lagu mengalun lembut diiringi dengan piano. Lagu ini mengulang kembali memori yang sangat lama terpendam. Lagu pertama yang pernah aku dengar. Ketika dia berdiri sendirian di ruang music sekolah. Mengalunkan nada lembut dan menyuarakan suaranya yang indah.
“ kau mau kemana? “ teriakan Alea menghentikanku sejenak. Aku berbalik mengambil tas putih yang tergeletak di atas tempat tidur.
“ Edja akan berangkat ke Ausie 1 jam lagi “ lagi-lagi ucapan Alea membuatku berhenti. Aku mengerutkan kening.
“ tadi malam aku bertemu temannya yang baru saja membantunya berkemas. Hari ini dia berangkat untuk studi lanjutannya di Ausie “ ucapan Alea seakan menjadi cambuk untukku. Aku berlari menuju parkiran mobil.
“ kenapa Edja, kenapa tidak dari dulu kau mengungkapkan perasaan itu? “ teriakan dalam pikiran itu seakan ingin aku teriakan. Perasaan itu kembali muncul. Perasaan yang dulu pernah aku taruh padanya. Sekarang perasaan itu muncul lagi.
Only one, it’s you, Edja Widyatama “ gumamku. Hanya kalimat itu yang aku ingin katakana padanya. Untuk pertama kalinya bersikap tenang tertinggal. Entah dimana namun sekarang aku ingin menemuinya dan mengucapkannya.
***
Bandara ini seakan lapangan yang begitu luas. Aku berputar mencari sosok itu. Sosok yang seakan memiliki dua sisi kehidupan. Namun ternyata aku tidak menemukannya.
Terengah, lelah, kecewa, dan putus asa. Aku duduk sambil membuka genggaman tangan itu. Foto lama yang sepertinya benar-benar hanya akan menjadi barang kenangan. Perasaan ini benar-benar membuat air mata yang membendung itu mengalir deras. Entah apa yang membuatnya begitu penting saat ini. Perasaan kecewa ini melebihi ketika Mr. Ondubu sama sekali tidak bisa kutemui.
“ setidaknya kau harus mengucapkan selamat tinggal, Dja “ kata-kataku seakan tenggelam dan ikut mengalir bersama air mata itu. Namun ternyata ada telinga yang mampu mendengarnya.
“ haruskah aku mengatakannya? “ dia berdiri dihadapanku. Dengan senyuman khasnya. Entah apa yang membuatku tercekat. Tidak berani berbicara. Mengatakan apa yang aku ingin katakan.
why? Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu, Miss Cadwell? “ tanyanya sambil berjalan mendekat.
Only one, and it’s you, Edja Widyatama “ ucapan itu terucap begitu saja. Edja menghentikan langkahnya. Tatapannya tidak bisa terungkap.
“ kenapa kau baru mengaucapkanya sekarang, Dja. Kenapa tidak lima tahun yang lalu. Kenapa tidak secepat mungkin. Kau tahu bagaimana memendam perasaan suka itu? Kau tahu bagaimana menahan keperihan itu ketika melihatmu pergi? Kau tahu bagaimana aku menunggumu untuk kembali ke Surabaya? Kau tahu bagaimana aku berusaha menghapus perasaan itu? Apa kau tahu itu semuanya, Dja. Dan sekarang kau ingin mengulanginya lagi? Kenapa kau begitu jahat, Dja “ semua cercaan itu seakan begitu saja muncul. Perwakilan atas semua perasaan itu terucap sekarang.
“ hanya itu yang ingin aku katakan. Semoga kau sukses disana “ aku melangkahkan kakiku. Pergi meninggalkan orang yang selama ini selalu menjadi bayangan dalam kehidupanku. Orang yang mengenalkanku pada banyak hal dan terutama pada perasaan itu. Aku ingin berlari meninggalkannya. Tapi tarikan dan pelukan itu membuatku terdiam disana. Air mata itu kembali mengalir.
“ maaf, Aria. Aku terlalu takut untuk menunjukkannya padamu. Aku terlalu takut mengatakannya padamu. Sama, Aria. Aku juga merasakan hal yang sama. Kekecewaan itu, kesedihan itu. Tapi aku tidak ingin mengulanginya lagi, Aria. Aku tidak ingin melepaskanu sekarang. I want you’re mine “ kata-kata itu mengalir hangat. Akhirnya aku tahu apa yang membuatnya takut. Dan akhirnya aku tahu apa yang membuatnya tidak bisa lagi menjadi Mr. Perfect.
“ jadi kau tidak akan pergi ke Ausie? “ tanyaku sambil menatap wajahnya.
“ aku tidak akan menjadi bodoh hanya karena mendapatkanmu, Miss Cadwell “ katanya sambil menjitak kepalaku. Ternyata dia tetap menjadi orang yang menyebalkan.
“ aku akan berangkat 1 jam lagi. Dan kau harus berangkat 1 tahun lagi. Kau mengerti? “ katanya lagi lalu kembali memelukku.
“ aku hanya akan pergi ke Korea 1 tahun lagi “ ucapku sambil melepas pelukannya.
“ kau tidak akan rela karena kau benar-benar menyukaiku “ katanya lagi.
“ kau akan mengetahuinya nanti “ ucapku. Ya, nanti kita akan mengetahuinya. setelah jarak dan waktu tidak lagi menghalangi kita. Only one, and it’s you.
***
Epilog
“ apa?! Jadi kau benar-benar masuk SNU[1]? “ teriakan Edja membuatku menjauhkan ponsel dari telingaku.
“ tidak perlu berteriak sayang. Aku mendapatkan tawaran beasiswa disana. Dan kau tahu, aku memiliki apartment yang bersebelahan dengan Mr. Ondubu “ jawabku sambil terus berjalan.
“ apa kau benar-benar mau membandingkanku dengannya, Miss Cadwell? “ ucapnya lagi. “ setidaknya dia tidak pernah berbicara dengan nadamu seperti saat ini, Mr. Widyatama “ aku menekan bel pintu berwarna putih itu. Suara itu ikut bergema dalam telepon.
“ apa kau ingin membuat tamumu menunggu diluar? “ kataku yang sepertinya direspon tanpa pikir panjang oleh Edja. Wajah yang selama ini hanya aku lihat dari layar computer atau ponsel, terlihat nyata di hadapanku. Dia tidak banyak berubah. Sama seperti perasaan ini. Tidak akan pernah berubah.
“ apa kau akan selalu membuat orang panik dan terkejut ha? “ katanya datar tanpa menurunkan ponsel dari telinganya.
just for you, honey “ kataku lalu memeluknya. Ya, setidaknya sekarang kami tahu apa yang kami pilih dan apa yang kami inginkan. Yang khayalan atau benar-benar kenayataan. Only one, and it’s you.
The end


[1] Seoul National University