Dibalik Hari Esok

July 24, 2010 Admin 0 Comments



Dunia yang sebenarnya memang tidak pernah seindah yang kita bayangkan. Mereka tidak pernah menuruti apa mau kita. Hanya usaha keras yang dapat menundukkan dunia agar mereka mau menuruti apa yang kita mau.

Di tengah sawah para manusia kecil sedang menggapai-gapai impian yang sedang mereka inginkan. Berebut berlarian lalu terus menggapai setinggi-tingginya. Bersaing dengan yang lain sampai tidak peduli kaki telanjang mereka terkena duri-duri kecil penghambat. Mereka tidak peduli dengan bebatuan yang mengganjal jalan mereka. Tidak peduli lumpur kotor yang mewarnai kaki mereka. Mereka tetap menuju tujuan semula, meraih mimpi yang ada dihadapan mereka, terus berjuang sampai akhirnya mereka berhenti setelah mendapatkannya.

Tawa-tawa kecil yang gembira mengiringi tarian indah kaki-kaki manusia itu. Mereka terlihat tanpa beban dan pikiran. Mereka tidak pernah tahu dan tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi di hari esok. Karena mereka mungkin memang tidak ingin tahu. Bagi mereka sekarang lah yang paling penting. Dimana mereka mendapatkan kegembiraan bersama kawan-kawan mereka.

Pak Gunawan masih berkutat dengan laporanku. Laporan proposal pengajuan perpindahan tempat kerja. Tempat yang selama ini aku inginkan sebagai tempatku mewujudkan impianku.

“ kau yakin apa yang kau mau? “ kerutan dahi Pak Gunawan membuktikan bahwa beliau meragukan apa yang sudah aku tulis. Meragukan keputusanku.

“ ya. Saya yakin bahwa ini yang saya inginkan “ kataku dengan yakin.

“ kau tahu apa resikonya? “ Tanya Pak Gunawan lagi.

“ yang saya tahu, resikonya adalah saya akan kehilangan posisi saya saat ini dan kehidupan mewah yang saya punya saat ini “ kataku mantap.

“ tidak hanya itu. Kau adalah dokter terbaik yang kami punya. Sejujurnya kami tidak ingin kau dimiliki oleh rumah sakit lain. Kalau dewan direksi tidak menghendakinya kau tidak akan bisa keluar “ lanjut Pak Gunawan.

“ Saya mohon pak. Saya minta bantuan bapak. Bukankah seharusnya saya bisa keluar kalau saya berkehendak? Selain itu saya sepertinya sudah mendapatkan panggilan itu pak “ kataku terus meyakinkan pak Gunawan.

“ baiklah. Akan saya usahakan. Besok lusa akan saya adakan rapat direksi “ kata Pak Gunawan sambil menyerahkan kembali proposalku.

“ terima kasih pak “ kataku lalu meninggalkan ruangannya. Aku tahu dia tidak hanya berbasa-basi saja. Dia akan menolongku. Dialah penolongku sampai aku bisa seperti ini.

***

“ maaf dokter Fadli. Saya tidak bisa menetujui pengajuan anda “ kata Pak Bambang pimpinan direksi rumah sakit.

“ Apa alasannya Pak. Bukankah seharusnya hal ini mendapat dukungan? “ kataku merasa hal ini tidak masuk akal. Mereka melarangku menolong orang lain yang seharusnya menjadi tugasku.

“ kita cari jalan lain. Kau bisa mengadakan kunjungan rutin tanpa harus tinggal disana. Apalagi ingin membangun rumah sakit. Itu bukan pekerjaan mudah. Kau hanya akan mendapatkan kekecewaan “ kata Pak Bambang lagi.

“ saya sudah siap mendapatkannya. Jadi tidak ada alasan untuk rumah sakit ini melarang saya karena saya juga belum menandatangani perpanjangan kontrak kerja saya. Saya akan pindah bulan depan bertepatan dengan habisnya masa kontrak saya “ kataku sambil beranjak dari kursiku.

“ kalau itu maumu, kau akan dipecat dari persatuan dokter dan kau tidak bisa mengakses bantuan dari rumah sakit manapun dan jajaran medis “ kata Pak Bambang.

“ terima kasih sudah memberitahu “ kataku lalu beranjak pergi dari ruangan itu. Ternyata jalanku tidak akan mudah.
***

Aku telah mempersiapkan segalanya. Ijin tempat tinggal di sebuah desa kecil di daerah Jawa Barat dengan jumlah penduduk tidak lebih dari 200 orang. Aku juga telah mempersiapkan beberapa proposal bantuan untuk merenovasi puskesmas yang sudah tidak layak lagi. Warga juga sudah berjanji akan membantu pembuatan puskesmas untuk desa mereka. Mereka sangat senang ketika ada seorang dokter yang akan menetap di desa mereka karena selama ini mereka hanya mempunyai seorang lelaki tua yang mempunyai pengetahuan tentang kesehatan untuk menyembuhkan mereka ketika sakit. Namanya Pak Wiguna. Orangnya sangat ramah dan sepertinya sangat berwibawa. Dia salah satu orang yang disegani di kampung itu.

“ Kapan Dokter akan resmi pindah kemari? Kami akan membantu berberes “ kata pak Kades ketika aku berkunjung untuk menyerahkan beberapa bahan bangunan.

“ Mungkin jika tidak ada kendala lagi minggu depan saya akan menempati rumah itu. Yang penting sekarang bapak mengkoordinir warga untuk membangun puskesmas itu lagi dan jika ada bahan yang kurang bilang saja kepada saya. Insyaallah jika saya masih ada rizki saya akan membiayai semuanya “ kataku menjelaskan. Aku memang berniat membangun dengan uang pribadiku hasil tabunganku selama ini sebelum aku medapatkan bantuan dari pihak lain.

“ terima kasih banyak lo nak Dokter. Kamu telah membantu banyak desa ini “ kata Pak Kades lagi dengan nada gembira.

“ maaf pak, saya hanya bisa membantu ini. Saya akan berusaha mendapatkan bantuan dari pihak luar agar fasilitasnya lebih memadai “ kataku.

“ Ini sudah lebih dari cukup. Ini sudah sangat membantu kami “ Bu kades juga ikut berbicara.

“ Kalau begitu saya pamit dulu ya pak. Saya akan kesini minggu depan untuk melihat pekerjaan pembagunan. Saya serahkan semuanya kepada Bapak karena bapak yang mengerti masalah seperti ini “ kataku sambil beranjak pergi.

“ baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih ya “ aku hanya mengangguk dan setelah menyalami keduanya aku langsung menuju ke mobil Ford ku dan kembali ke Bandung.

Ketika melewati rumah pak Wiguna, rumahnya terlhat ramai dengan beberapa sepeda terparkir didepannya. Ternyata dia sedang kebanjiran pasien. Aku menghentikan mobilku dan bermaksud membantunya.

“ Selamat malam pak Wiguna “ kataku ketika melihat pak Wiguna sedang memeriksa anak kecil. Pak Wiguna menoleh kepadaku.

“ Oh dokter Fadli. Ada apa? “ tanyanya sambil terus memerikasa keadaan pasien.

“ saya kebetulan lewat lalu saya lihat bapak sedang ramai pasien. Saya berniat membantu “ kataku menjelaskan. Lalu dia menoleh lagi dan melihat beberapa pasiennya yang lumayan banyak.

“ Oh tentu saja. Malah saya senang anda mau membantu “ kata suara seraknya ciri orang tua. Lalu pak Wiguna memanggil salah satu nama pasiennya dan memperkenalkanku padanya. Aku segera memeriksanya dengan alat seadanya. Ternyata pak Wiguna tahu tentang medis lebih dari yang aku kira. Hampir mirip seorang dokter.

“ Bapak hebat ya “ kataku ketika beliau telah mempersilahkan pasien terakhirnya pulang.

“ kau yang hebat Dokter “ katanya sambil tertawa.

“ panggil saja saya Fadli. Saya serius pak. Saya merasa bapak bukan orang yang biasa “ kataku yang membuat tawa pak Wiguna menghilang.

“ duduklah dulu. Akan aku buatkan minuman. Kau pasti lelah “ katanya sambil beranjak menuju dapur. Aku yakin dengan pernyataanku tadi. Dia bukanlah orang biasa yang kebetulan mengerti medis.

“ Silahkan “ kata Pak Wiguna sambil menyerahkan minuman seperti teh tapi terdapat aroma jeruk yang menghangatkan.

“ Kamu ini ada-ada saja. Saya ini hanya orang tua yang dulunya pernah membantu seorang mantri. Jadi saya sedikit tahu tentang pengobatan “ katanya dengan aksen jawa.

“ tapi Bapak bukan seperti seorang pembantu mantri melainkan sudah seperti dokter. Dari cara bapak mengobati pasien dan menerka apa penyakit pasien “ kataku dengan nada serius.

“ Kamu ini. Bapak seperti itu karena sudah terbiasa. Sudah 25 tahun bapak mengobati orang “ katanya dengan nada merendah. Mungkin dia memang benar. Alah bisa karena biasa. Mungkin memang karena kebiasaannya dia bisa seperti itu.

Setelah berbincang-bincang lumayan lama, aku mohon pamit untuk pulang ke Bandung.

***

Hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di rumah sakit ini. Tidak ada pesta pelepasan atau apapun. Bahkan jajaran direksi malah memusuhiku. Hanya beberapa teman dekan dan tentu saja pak Gunawan yang ber-say good bye denganku. Sedangkan yang lainnya terpengaruh hasutan direksi yang menganggap aku adalah penghianat.

“ Good luck bro. Kalo ada perlu atau ada kesulitan hubungi gue aja “ kata Bayu, teman ku sejak SMA.

“ Baik-baik lo disana. Alo ada libur, gue bakal kesana “ kata si gendut Ayis. Dia terlihat memberikan gulungan kertas panjang.

“ Ini buat lo “ katanya. Ternyata isinya adalah konsep rumah sakit ideal rancangan kami dulu sewaktu SMA.

“ Kita pengen elo yang ngewujudin “ kata Bayu. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum senang karena mereka berdua masih tetap seperti dulu. Tetap mendukung segala keputusanku meskipun mereka sering geleng-geleng kepala mendengar ide gilaku.

“ Anda tidak ingin mengatakan apapun pak “ kataku pada Pad Gunawan.

“ Banyak. Tapi kata-kata itu sudah tidak perlu lagi. Kau akan mendapatkannya sendiri. Kalau perlu bantuan hubungi aku. Akan aku carikan akses untukmu. Aku akan memperjuangkan cita-citamu “ katanya sambil memelukku.

“ terima kasih banyak pak. Bapak sudah menjadikan saya sampai seperti ini. Saya tidak tahu akan jadi apa saya kalau tidak ada bapak “ kataku sambil mempererat pelukan lelaki yang sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri.

“ baik-baik lo disana. Kita bakal selalu ngedukung elo “ Teriak Ayis ketika aku melambaikan lambaian terakhir dari dalam mobil. Inilah awal perjuanganku. Awal terwujudnya mimpiku.

***

Sudah satu bulan aku disini. Dengan bantuan pak Wiguna aku menjadi dokter tunggal di desa ini. Banyak sekali kejadian-kejadian yang diluar perkiraan bayanganku. Ternyata butuh biaya yang tidak sedikit untuk membangun sebuah puskesmas. Bagaimana kalau rumah sakit? Renungku dalam hati. Aku sudah hampir kehabisan dana karena tidak ada pemasukan sama sekali sedangkan proposalku selalu ditolak dan tidak pernah direspon oleh pemerintah bagian medis maupun kemanusiaan. Tercoretnya namaku dalam persatuan dokter mempersulit dokter baru sepertiku untuk mencari bantuan. Tapi inilah hal yang harus aku selesaikan. Aku terus mencoba meminta bantuan pada organisasi swasta lain. Entah yang berkecimpung di dunia kesehatan maupun yang lainnya. Hanya ada beberapa bantuan kecil dari beberapa perusahaan bangunan pinggiran kota. Padahal pembangunan puskesmas ini masih membutuhkan banyak biaya.

“ kenapa kau merenung seperti itu “ suara serak pak Wiguna mengagetkanku. Selama puskesmas belum selesai. Aku bekerja di klinik rumah pak Wiguna. Terkadang sampai tertidur disana.

“ Bapak. Saya baik-baik saja pak “ kataku menutupi rasa kagetku.

“ tidak ada orang yang melamun dengan wajah murung seperti itu tidak punya masalah “ kata pak Wiguna sambil terus tersenyum.

“ saya hanya memikirkan tentang pembangunan puskesmas itu pak. Mungkin saya terlalu terburu-buru mengambil keputusan “ kataku mulai meragukan diriku sendiri. Pak Wiguna hanya tertawa mendengar perkataanku. Dia duduk di bangku kayu di depan rumahnya yang biasanya digunakan sebagai tempat tunggu para pasien.

“ apa kamu pikir jika kamu mengambilnya 2 tahun yang akan datang kamu akan berhasil? “ kata pak Wiguna sambil menewarang. Aku berfikir.

“ tentu saja. Setidaknya aku akan mempunyai lebih banyak uang yang akan membantu pembangunan puskesmas itu. Puskesmas itu akan cepat selesai “ kataku mengingat angan-anganku tadi.

“ ternyata pikiranmu tidak sedewasa cita-citamu “ kata pak Wiguna sambil kembali tertawa.

“ maksud anda? ‘ tanyaku bingung mendengar perkataannya.

“ Kalau kau melaksanakannya 2 tahun yang akan datang kau tidak akan perna mewujudkannya karena hati dan pikiranmu sudah akan tecemar denga keinginan-keinginan lain yang menurutmu lebih baik “ katanya. Aku masih tidak mengerti kata-katanya.

“ Saya masih tidak mengerti “ kataku yang langsung disambut tawa pak Wiguna.

“ Ada sepasang sahabat yang mempunyai cita-cita ingin membangun sebuah desa yang sudah hancur karena bencana alam. Salah satunya terlalu banyak berfikir sampai pikiran-pikirannya teracuni lingkungannya yang selalu menuntutnya mencari sebuah keuntungan dari setiap tindakannya. Lalu setelah dia kembali berfikir dia mengurungkan niatnya karena dia merasa perbuatannya tidak mempunyai keuntungan sedikitpun bagi dirinya malahan yang ada kerugian yang sangat banyak. Tapi berbeda dengan satunya lagi dia. Dia sudah membulatkan tekadnya sampai-sampai dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi besok. Yang penting apa yang dia lakukan hari ini. Entah dia besok tidak akan bernafas lagi. Akhirnya sahabat yang meninggalkan mimpinya stay di tempatnya tanpa mendapatkan kepuasan apapun tapi berbeda dengan sahabat yang tetap memberanikan diri meskipun banyak yang menentang keputusannya , dia hidup bahagia bersama warga desa itu yang selalu menganggapnya keluarga meskipun tidak hidup di istana yang mewah dengan mobil merci mewah” cerita pak Wiguna.

“ apa kau masih belum mengerti? “ katanya sambil tersenyum padaku. Aku tahu maksud kata-katanya, maksudnya bercerita kepadaku.

“ ya. Saya akan terus berusaha untuk membut hari esok lebih berarti bagi semua orang “ kataku lalu menerawang kearah langit yang sedang berhiaskan bintang-bintang. Aku tidak akan mengatakan kata-kata menyerah lagi. Aku harus memantapkan jalan yang aku ambil.

“ apa masalahnya. Siapa tahu aku bisa membantu “ kata pak Wiguna tiba-tiba.

“ Bahan bangunan kurang sedangkan uang yang saya anggarkan sudah habis. Permohonan bantuan yang saya ajukan kepada pemerintah dan rumah sakit pusat tidak pernah direspon. Saya sudah kehabisan akal untuk itu semua “ kataku mengutarakan unek-unekku yang selama ini aku pendam.

“ apa kau tidak mempuyai teman? “ kata pak Wiguna.

“ punya. Mereka juga sedang mengusahakannya. Tapi mereka juga kesulita karena saya tidak mendapat restu dari ikatan dokter dan juga saya telah dikeluarkan dari persatuan itu “ lanjutku.

“ Apa kau tidak mengumumkan proyekmu ini? Mungkin melewati internet? Siapa tahu ada pengusaha yang berbesar hati mendanai “ kata Pak Wiguna.

“ Apakah itu mungkin? “ tanyaku karena ini bukan lahan bisnis.

“ banyak orang diluar sana ingin menolong orang lain tapi mereka tidak bisa langsung berkecimpung dengan orang yang ditolongnya seperti dirimu. Seperti halnya orang yang mempunyai keinginan menolong nyawa manusia tapi dia tidak ingin berurusan langsung, dia akan mencari perantara seperti dirimu sekarang “ kata-kata pak Wiguna yang tidak pernah terlintas dikepalaku seakan memberikan lampu terang di ruang yang gelap. Aku langsung memeluk pak Wiguna dan berlari menuju mobil dan juga tidak lupa mencium tangan keriput pak Wiguna sebelum pergi.

“ semoga sukses nak “ terdengar seruan pak Wiguna. Aku tersenyum membayangkan apa yang akan aku lakukan. Akhirnya. Semoga cara ini akan berhasil.

***

Satu minggu setelah aku menyebarkan berita tentang pembangunan puskesmas itu kepada publik, teman-temanku yang sekarang di dalam maupun luar negeri, yang berkecimpung di dunia kesehatan maupun tidak mulai membalas. Banyak sekali para donatur yang memberikan bantuannya dari yang mulai uang tunai sampai bahan bangunan. Pekerjaan pembangunan yang sempat terhambat mulai berjalan kembali. Malahan banyak relawan seperti para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemanusiaan datang langsung untuk membantu para warga memeprcepat pembangunan puskesma itu.

“ Selamat ya Bro. Elo udah bisa ngewujudin cita-cita kita “ kata Ayis yang berkunjung bersama Bayu.

“ yah, setidaknya meskipun bukan rumah sakit “ kata Bayu yang disambut tawa kami bertiga. Bayu dan Ayis adalah salah satu donatur disaat masa kritis. Mereka rela menjual mobil mereka untuk menyumbang pembangunan.

“ yah, tapi aku masih berharap bisa membangun rumah sakit “ kataku sambil menerawang kearah hamparan persawahan di depanku.

“ Selamat pagi. Bisa saya bicara dengan dokter Fadli “ kata suara yang tiba-tiba muncul dari belakang gubuk yang sedang kami duduki.

“ Saya sendiri “ kataku sambil berdiri menghadap seorang laki-laki memakai setelan jas army.

“ Saya Alex. Saya assisten dari Ibu Daisy. Beliau ingin membicarakan sesuatu dengan anda berhubungan dengan pembangunan yang sedang anda lakukan “ katanya.

“ Beliau sedang menunggu anda di kediaman bapak Wiguna “ katanya lagi. Aku langsung beranjak kerumah bapak Wiguna diikuti dengan Alex dan kedua temanku itu. Sesampainya didepan rumah pak Wiguna terlihat beberapa mobil mewah yang berjajar rapi. Terlihat beberapa orang berjass hitam berada diluar rumah. Aku langsung masuk diikuti oleh Bayu dan Ayis. Terihat seorang wanita yang masih muda sekitar berumur 20 an berbincang dengan pak Wiguna.

“ Ini dia yang anda tunggu “ kata pak Wiguna ketika melihatku. Wanita itu langsung berdiri menghadapku dan mengulurkan tangannya.

“ Saya Daisy Ardiand dari JIV Company “ katanya memperkenalkan diri.

“ Anda pasti dokter Fadli. Saya ingin berbicara sesuatu pada anda “ katanya sambil mempersilahkan aku duduk.

“ tujuan saya kesini adalah untuk menawarkan bantuan pada anda. Saya berniat membiayai proyek anda, bukan hanya membangun sebuah puskesmas tapi lebih ke rumah sakit karena saya melihat pembangunan masih mencapai 30 persen. Jadi saya rasa belum terlalu terlambat untuk mengubah konsepnya. Apakah anda menyetujuinya? “ kata-katanya yang lugas dan tegas membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Kulihat Ayis dan Bayu juga bereaksi sama sepertiku.

“ Apa ini mimpi? Apa anda serius? “ kataku terbata-bata masih elum pulih dari keterkejutanku.

“ Ya. Saya juga akan memberikan bantuan medis berupa peralatan dan SDM nya dan dana pengembangan setelah rumah sakit ini jadi sampai bisa berdiri sendiri. Semuanya akan saya tanggung. Bagaimana dokter Fadli? “ katanya lagi. Satu lagi yang membuatku terkejut. Bantuan alat dan personil? Ini hanya ada dalam mimpi.

“ Saya sangat setuju. Terima kasih banyak. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan pada anda. Saya benar-benar berhutang budi pada anda “ kataku sambil disambut tawa semuanya.

“ Akhirnya Yu, kita bisa wujudin impian kita. Akhirnya kita bisa lepas dari rumah sakit itu “ kata Ayis sambil memelukku dan Bayu.

“ Apa maksudmu? “ tanyaku bingung mendengar kata-kata Ayis.

“ sebenarnya kita ingin ikut sama elo dulu, tapi pak Gunawan melarang dengan alasan kalau kita juga keluar, kita nggak bakalan bisa nolong elo. Jadinya kita tetep tinggal. Tapi kita bertekad kalau kita sudah nemuin titik terang kita bakal gabung lagi sama elo. Pak Gunawan juga “ katanya sumringah. Aku langsung memeluk mereka. Ternyata mereka memang tidak pernah meninggalkanku. Mimpiku benar-benar menjadi nyata. Sebuah rumah sakit akan terbangun di desa ini.

Perjuangan yang keras dengan berbagai hambatan ahirnya membuahkan banyak hasil. Bukan hanya untukku dn teman-temanku. Tapi juga orang lain yang sedang membutuhkan. Akhirnya tidak ada lagi cerita tragis tangis kecil yang selama ini selalu menghantui.