Tak Semanis Rasanya, Swasembada Gula Berjalan Pahit

January 26, 2013 Admin 0 Comments


Teh tak harus manis, kopi pun kebanyakan orang lebih senang dengan rasa yang pahit. Namun ternyata gula masih menjadi salah satu komoditi yang sangat di butuhkan. Angka 2.97 juta ton gula yang dibutuhkan oleh masyarakat tahun lalu merupakan pembukti ampuh bahwa gula masih harus terus diproduksi secara maksimal.
Swasembada gula 2014, ya, inilah suatu program yang dikabarkan tengah di kerjakan oleh pemerintah.  Program yang menuntut produksi tebu untuk lebih maksimal lagi agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara nasional. Namun ternyata swasembada yang sagat di butuhkan ini mendapat banyak kendala yang riskan, sampai pada akhirnya target pecapaian pun di turunkan.
Membaca sekilas berita tentang swasembada gula kita akan langsung mengena pada beberapa kendala yang banyak terlontar di media online, diataranya adalah terkendalanya penyediaan bibit unggul, pengairan yang buruk, tidak adanya lahan untuk perluasan tanam tebu.  Alasan-alasan kendala itu bukalah tanpa alasan, terutama untuk perluasan lahan yang merupakan kendala utama untuk meningkatkan produksi gula.
Kita tahu bahwa saat ini rendemen gula memiliki tingkat yang rendah. Hal inilah kenapa perluasan tanam tebu perlu diperluas. Namun ternyata untuk menemukan lahan yang memiliki luas sekitar 350.000 hektar bukanlah perkara mudah. Permasalahan seperti adanya hak ulayak dan gugatan pemilik HGU merupakan hal-hal klasik yang terus menjadi kendala.
Banyak efek karena tidak ditemukannya lahan yang luas tersebut, diantaranya adalah pesimisnya sikap pemerintah dalam target swasembada gula. Seperti yang dinyatakan oleh Kementerian Pertanian, target produksi gula yang semula 5.7 juta ton dikoreksi menjadi 3.1 juta ton. Meskipun tidak mempengaruhi hal lain secara signifikan, namun ternyata pengambilan sikap ini sudah dapat menunjukkan bagaimana sebenarnya sikap pemerintah dalam pelaksanaan swasembada gula 2014 ini.
Patah arang, itulah yang bisa terlihat dari para petani tebu. Semua pesimisme yang ada dan kegagalan yang terus datang menjadikan mereka tidak ingin lagi menanam tebu. Rasa merugi tidak ingin lagi dirasakan oleh mereka. Apalagi mereka saat ini semakin yakin impor rafinasi akan terus berlaku yang menjadikan mereka semakin merugi nantinya.
Selajur selentingan “Kenapa harus melulu memikirkan perluasan lahan kalau bisa memaksimalkan produksi dengan membuat pabrik baru? “ oleh seorang petinggi membuat kita berfikir ulang. Kalau memang sekian kendala itu tidak bisa di singkirkan kenapa tidak memaksimalkan mereka dengan hal lain?
Ya, pabrik baru memang memiliki potensi yang besar dikala ini. Para pabrik baru ini akan memaksimumkan rendemen dan produksi gula dari jumlah tebu yang ada saat ini. Selain itu, pembangunan pabrik tak membutuhkan banyak lahan kan? Meskipun memang tak dapat dipungkiri uang sekitar 1 triliun harus dikeluarkan dari kantong untuk merealisasikannya.
Terlihat berat dan terlalu besar. Hal itulah yang mungkin akan kita pikirkan melihat nominal untuk pembuatan pabrik gula. Lalu kapan terlaksananya swasembada tebu kalau seperti ini? Inilah peranan penting dari para perusahaan perkebunan tebu, seperti halnya PTPN X. Mereka bisa membuat rencana mereka menjadi semenarik mungkin untuk industri ini sehingga dapat mencapai minat para stake holder yang sangat banyak di luar sana. Para stake holder inilah yang akan membantu dalam pembuatan pabrik gula. Hal ini bukalah hal yang mustahil untuk dilakukan mengingat industri gula saat ini sangat menggiurkan jika dilaksanakan dengan maksimal.
Menurut Wakil Ketua Umum Kaadin Bidang Perdagangan Distribusi dan Logistik, Natsir Mansyur, saat ini perusahaan seperti PTPN di Indonesia hanya mampu memenuhi 60% gula nasional[1]. Bukankah ini merupakan prospek yang sangat besar bagi para stake holder untuk berinvestasi? Hanya saja tinggal bagaimana PTPN X memperlihatkannya pada mereka dengan semenarik mungkin.
Memang tantangan untuk mencapai para stake holder ini masih sangat rumit saat ini. Mengingat bahwa PTPN masih merupakan BUMN, maka hal yang bisa dilakukan adalah bicara tentang privatisasi. Namun PTPN X bisa saja berfikir independen. Para stake holder lokal merupakan pangsa pasar yang sangat banyak berkeliaran di sekitar kita. Hanya saja mereka berfikir kerumitan yang tiada batas ketika sudah berbicara sangkut pautnya dengan pemerintah. Itulah alasan penting dimana PTPN X dibutuhkan.
PTPN X bisa menciptakan iklim berbeda dari perusahaan lain. Iklim ini seperti halnya adalah peningkatan kinerja perusahaan dan penunjukan kualitas semua unsur di dalamnya. Selain itu PTPN X bisa melakukan kontrol ulang pada semua hal, seperti pada SDM, sistem administrasi dan keuangan, pemasaran, pengembangan dan penelitian, serta operasional. Dengan kualitas yang tinggi pada semua unsur itu, para stake holder tidak akan menampik bahwa revitalisasi pabrik memang benar-benar dibutuhkan. PTPN X juga perlu memanfaatkan semua hal yang dia punya, seperti halnya prospek wisata sejarah pabrik gula yang saat ini banyak dibicarakan. Kerjasama yang erat dengan para instansi pendidikan dengan sasaran para pelajar yang haus akan pengetahuan menjadi jalan ampuh. Ditambah lagi jika pabrik gula yang dimiliki bisa menjadi sebuah wisata budaya yang bukan hanya menampilkan proses pembuatan gula, namun juga eksplorasi lain mengenai gula.
Untuk mencapai seuatu yang besar memang harus melalui tantangan yang besar. Namun mengingat industry ini sangat memiliki peluang, PTPN X harus bekerja ekstra keras dalam memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada. Dengan keberhasilan ini PTPN X bukan hanya membantu pemenuhan gula nasional ataupun meraih keuntungan bersih belaka, namun juga menyelamatkan para petani tebu yang saat ini terancam gulung tikar karena adanya gula impor. Hal ini memang berat ketika berbagai birokrasi dan ketidakseriusan pemerintah melalang buana. Namun perbaika dalam diri PTPN X akan menyilaukan mereka di luar sana dan pinu keberhasilan akan terlihat terang.



[1] http://economy.okezone.com/read/2012/07/28/320/669858/gula-nasional-hanya-mampu-penuhi-60-kebutuhan